Selasa, 17 April 2012

Surat Patah Hati


Sudah lama aku ingin ungkapin ini. Sudah sejak dulu. Dulu sekali. Tapi, aku selalu menahan diri. Aku selalu mencoba untuk bungkam. Kau tahu kenapa? Itu karena aku takut. Takut kalau apa yang aku pikirkan adalah kenyataan.

Kau katakan kalau aku tak pernah mau tau keadaanmu? Kenapa aku ga menanyakan kabarmu pada teman-temanmu?
Itu bukan karena aku tak peduli. Tapi karena aku ingin dengar sendiri dari mulutmu. Karena aku tak sanggup mendengar kenyataan dari mereka.
Kau menuntut hal itu padaku, tetapi apakah kau pernah menanyakan keadaanku pada teman-temanku? Aku berani bertaruh, nomor mereka pun kau pasti tak tahu.

Katamu kau jenuh. Aku tahu itu hanyalah sebuah alasan yang dibuat-buat. Dan aku menyadari alasan yang sebenarnya. Tapi aku tak pernah bertanya ataupun mencari tahu dari teman-temanmu. Kau tahu kenapa? Karena aku takut kalau yang aku pikirkan benar.

Kau pikir aku tak pernah cemburu? Kau salah besar. Sering aku merasa cemburu pada temanmu. Yang selalu menemanimu makan. Yang kau antar ke dokter saat dia sakit. Yang kau antar pulang setiap malam saat dia belajar di kontrakanmu. Tapi aku tak pernah bilang. Kenapa? Karena kalau aku cemburu dan marah padanya, itu artinya aku sama saja dengan mantanmu yang dulu! Dan aku ga mau seperti itu.

Kau pikir aku tak peduli padamu? Kau pikir aku tak perhatian padamu?
Sekarang aku tanya padamu, pernahkah kau meneleponku untuk sekedar berbasa-basi? Yang ada aku yang selalu meneleponmu.
Oke, untuk berkirim pesan singkat lewat HP kau selalu memulainya. Dan mungkin kau berpikir kenapa harus selalu dirimu yang mulai? Itu semua bukan kulakukan tanpa alasan. Aku takut mengganggumu.
Tiap kau rapat dan sms-an denganku aku selalu mengakhirinya lebih dulu dan berkata 'Ntar aja abis rapat baru dilanjut lagi sms-an nya'. Kau tahu kenapa? Karena aku tak mau kau di cemooh oleh temanmu. Aku tak mau ada temanmu yang berpikir kau hanya pacaran saja hingga ga konsen rapat. Aku tak mau itu.

Aku memberimu perhatian dan merindukanmu dengan caraku sendiri. Tapi, sayangnya kau tak lihat itu. Kau ga mengerti aku. Dan mungkin aku juga tak mengerti dirimu.
Tapi tolong, tak bisakah kau utarakan apa yang kau inginkan dariku? Apa yang tak kau sukai dariku? Apa yang ingin kau rubah dariku?
Aku bisa berubah untukmu. Aku bisa menjadi yang seperti kau mau. Untuk dirimu.

Mungkin kau pikir aku ga bisa berkorban untukmu? Tak bisa ke tempatmu? Kau salah.
Tapi situasi membuatnya berbeda. Dan aku harus mengorbankan perasaanku dan juga bahkan dirimu untuk tanggung jawab yang sudah di amanahkan padaku. Aku ingin lari, ingin pergi, tapi aku ga boleh egois. Dan bodohnya aku mengabaikan perasaanmu.

Saat kau ingin kita berakhir, aku masih merasa tak percaya. Seharian aku menangis. Berpikir dan terus berpikir. Aku tahu kau berubah. Tapi aku tak berani bertanya. Hingga akhirnya aku beranikan diri untuk ungkapkan padamu dan tanpa kusangka tanggapanmu langsung seperti itu.

Aku KECEWA! Kecewa yang amat sangat.

Aku tahu bukan hanya jenuh alasanmu memutuskanku. Aku tahu ada alasan lainnya. Tapi aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin ini kesalahanku hingga kau merasa jenuh padaku.

Hingga hari ini......

Akhirnya aku memang harus hadapi kenyataan.

Ternyata kau sudah punya pacar baru. Sungguh tak ku duga akan secepat ini. Cuma butuh waktu seminggu bagimu untuk menyingkirkanku? Semudah itukah?

Lalu apa arti malam itu? Malam saat kau transit di Makassar?
Kenapa kau kecup keningku malam itu?
Kenapa kau ucapkan 'I love you' padaku?
Kenapa?
Kenapaaaa??

KAU BRENGSEK!

BENAR-BENAR BRENGSEK!

Aku menyadari hal inilah yang kau lakukan pada mantan-mantanmu dulu. Mungkin beginilah rasa sakit yang dirasakan Intan dulu padamu.

Aku hanya berharap, kelak kau tak mengumbar lagi janji-janji palsu. Karena janji itu adalah hutang, dan kau sudah punya terlalu banyak hutang dengan pacar-pacarmu terdahulu.

Aku kasihan dengan pacarmu yang sekarang. Mungkin dia ga tau kalo kamu masih ngomong sayang ke aku, masih ngomong cinta ke aku, bahkan kau mengaku kalau kau memang masih cinta sama aku, dulu hingga sampai saat ini, perasaanmu tak berubah padaku.
Entahlah, itu benar atau hanya BULLSHIT! Aku tak tahu.
Atau mungkin itu hanya caramu untuk menggantung perasaanku?

Mungkin ketika dia bertanya padamu apakah kamu masih sayang sama aku, kamu pasti menjawab 'itu dulu, sekarang aku udah punya kamu.' Jawaban yang sama ketika aku bertanya mengenai Intan setahun yang lalu. Hhahaha...... Sungguh sangat lucu!

Aku tahu semua yang busuk tentang dirimu! Semua cerita cintamu. Tapi aku tak pernah mengungkit-ungkitnya. Kau tahu kenapa? Karena aku tak mau kita bertengkar hanya karena masa lalu.
Tapi sayangnya itu menjadi suatu pola yang kau terapkan dalam kehidupan cintamu. Dan itu adalah hal yang sangat aku sesalkan.


Puspita. Nama yang indah.
Dia seniormu kan?
Aku kadang merasa lucu sendiri jika mengingat bahwa ternyata kau telah menyediakan cadangan sebelum putus denganku. Yah, cara yang sangat bagus. Menyediakan cadangan sehingga jika nantinya putus, sudah ada yang mengganti dan mengisi kesepian. Hhahaha......

Apapun itu, aku hanya berharap kelak jika kau putus dengannya bukan karena kau telah menemukan penggantinya yang lain. Aku berharap kau tidak lagi menggunakan cara yang sama seperti yang kau gunakan pada mantan-mantanmu. Kau ucapkan cinta, kecup kening, dan ternyata sudah punya yang baru!

Semoga kau bahagia di atas penderitaanku.



*dari yg sangat mencintaimu [dulu] : iQ*

0 komentar:

Poskan Komentar